cerpen

Senyumanmu…..

Embun pagi itu sangat tebal, membuat Rasti tak berani melaju dengan kecepatan yang tinggi. “Ah, pasrah deh… dihukum lagi, dihukum lagi…”. Seperti yang tlah Rasti perkirakan, dia di hukum karena terlambat masuk sekolah. Ini adalah hukuman yang kesekian kalinya bagi Rasti. Untung ada Pak Slamet yang slalu meringgankan hukuman Rasti di sekolah. Beliaulah yang slalu membantu menyapu halaman atau sekeadar menyediakan segelas teh manis jika Rasti mampir ke tempat memasak tukang kebun. “kulo damelke the angget njeh mbak…” kata itu yang selalu si ucapkan pertamakali jika Rasti mampir ke tempat memasak tukang kebun. Mungkin itu salah satu ungkapan rasa terimakasih Pak Slamet karena hampir setiap pagi selalu dibantu oleh rasti karena telah meringankan pekerjaannya sebagai tukang kebun.

***—***

Bel istirahat pertama berbunyi “ke kantin yuk Ras..” ajak Meta sambil meraih tanggan Rasti. Meta memang tidak tahan jika harus menahan lapar.

“Emm.. tidak ah.. kamu aja sendiri.” Sahut Rasti.

”Ayo lah… kan kamu orang paling cuantik sedunia…” rayu Meta.

“aku males Ta…”

“trus kamu sendiri mau ngapain istirahat-istirahat gini…?” taya Meta dengan wajah ingin tau.

“Cuci mata dong… mungkin adabarang bening untuk di lihat. Pusing nih… aku tadi habis ngerjain soal-soal fisika.. ” jawab Rasti.

“Huuu… dasar kamu itu… kagak tobat-tobat juga…? Ya udah lah, kalo dapat barang bening bagi-bagi ya…” sahut Meta agak centil.

“sip lah….” Rasti menjawab dengan senyum.

***—***

“Sendirian mbak…” pak Slamet menggagetkan lamunan Rasti yang sedang duduk-duduk di hal sekolah. “eh… iya pak…” jawab Rasti agak kaget. Tak lama kemudian Pak Agus datang dengan senyuman yang bisa di bilang agak mencurigakan. “pasti mau ngerjain aku lagi nih…” firasat Rasti. “Ras, otot tangganmu berasr banget, habis menyapu berapa hektar tadi..?” sapa Pak Agus dengan gaya yang sedikit menghina. “satu lusin hektar pak… kan Rasti cinta lingkungan… hehehe…” jawab Rasti menagkis ejekan pak Agus. Pak Agus memeng slalu menghina Rasti jika Rasti terlambat masuk sekolah. Tak tau menggapa pak Agus duduk agak lama dan ngobrol ngalor-ngidul dan sesekali merka tertawa. Walau Rasti sering dihukum tapi Rasti tetep berprestasi. Buktinaya Rasti menjadi murid cerdas di mata pelajaran matematika. Tak lain dan tak bukan guru matematika di sekolah Rasti adalah Pak Agus. Makannya antara pak Agus dan Rasti akrab.

“Assalamu’alaikum…” suaranya lembut dan seketika dapat menghentikan tawa kami. “wa.. wa.. Wa’alaikum salam…”. “subhanallah… malaikatkah kau??? Perfect.. ” hati Rasti berkata. Mulut Rasti pun terkunci dan matanya terpana, sampai ketika dia berlalu dari hadapannya. Hanya seberkas senyum yang rasanya subhanallah… sangat abstrak dijelaskan tapi sangat kongkrit dirasakan…

***—-***

“hai Ras, kamu kesambet setan di Hall ya….??” Tanya Meta setelah merasa ada sesuatu yang ganjil pada teman baiknya.

“Apa kamu tau Ta, apa yang dirasakan para wanita saat melihat Nabi Yusuf?sampai-sampai jari jemari mereka putus tapi tetap tak dirasakan oleh para wanita itu…”. Tanya Rasti agak sedikit aneh.

“Kok kamu bertanya pertanyaan aneh sepertiitu?” Meta kebinggungan.

“sekarang aku dapat merasakan apa yang wanita-wanita itu rasakan saat melhat Nabi Yusuf Ta… ” jawab Rasti sambil senyum-senyum sendiri.

“wah gawat… kamu terkena virus merah jambu sobat…” kata Meta sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“aku over dosis Ta…kebanyakan nyerap vitamin mata…” kata Rasti ngelantur.

“idih… zina mata aja low kerjaannya…” jawab Meta agak nyengir.

“pandangan pertama kan nikmat Ta… jadi aku pandangi terus tadi… hahahahaha…..” kata Rasti untuk membela pernyataan dirinya sendiri.

“huuu…. dasar” kata Meta pasrah.

***—***

Di lain hari Rasti bertemu dengan pak Agus guru matematikanya.

“pagi pak….” Sapa Rasti.

“tumben kamu tidak terlambat Ras…?” sindir Pak Agus.

“peningkatan dong pak… hehehehehe…” jawab Rasti.

“Emm… laki-laki dua hari yang lalu namanya siapa pak?” Tanya Rasti malu-malu.

“O… Fais Maksudmu..?” jawab pak Agus singkat.

“yang adadi Hall itu lho pak…” jelas Rasti.

“iya, itu Fais. Dulu juga seklah di SMA kita” jelas pak Agus.

“kemarin ada acara apa pak? Kok kak Fais ke sini? Sekarang dia dimana?” tak sadar Rasti bertanya dengan menggebu-gebu kepada pak Agus.

“cari info sendiri dong… hehehe…” jawab pak Agus sambil tersenyum…

“yahhh……” Rasti kecewa karena tak dapat info.

***—***

“Fais… Fais… Fais…” akan kuingat namamu. Aku berharap kau silaturahim ke sekolah lagi. Jika kau datang aku ingin katakana sesuatu kepadamu.

“jazakumuallah atas secerbis senyum keihlasan yang kau beri padaku.. ” dan “ma’at taufik” do’aku untukmu…

***—***

The End….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s